Yogyakarta — SMK Negeri 2 Yogyakarta menyelenggarakan pelatihan literasi kepenulisan ilmiah bagi guru pada 21–23 April 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan Duwi Saputro dari Tim Komunitas Literasi Tribuno Svastha Harena sebagai narasumber utama. Pelatihan diikuti oleh para guru dari berbagai bidang keahlian dengan tujuan meningkatkan kemampuan menyusun karya tulis ilmiah yang bersumber dari pengalaman dan aktivitas pembelajaran di kelas.
Pelatihan literasi kepenulisan ilmiah dilaksanakan sebagai Upaya peningkatan kompetensi guru dalam bidang literasi. “Sesungguhnya guru memiliki tanggung jawab untuk terus berliterasi, merefleksi, dan berinovasi dalam pembelajaran. Aktivitas tersebut dapat didokumentasikan dalam berbagai tulisan ilmiah, semoga pelatihan ini dapat meningkatkan kompetensi dan tanggung jawab kita sebagai pendidik khususnya dalam hal literasi,” tutur Moh. Rokhis, Kepala SMK Negeri 2 Yogyakarta.
Pelatihan berlangsung secara interaktif melalui berbagai sesi, mulai dari pengenalan dasar-dasar karya ilmiah, teknik menentukan topik penelitian, penyusunan kerangka tulisan, hingga praktik menulis artikel ilmiah berbasis pembelajaran di kelas. Para peserta juga mendapatkan pendampingan dalam mengidentifikasi masalah pembelajaran yang dapat dijadikan bahan penelitian maupun publikasi ilmiah.
Duwi Saputro menegaskan bahwa guru memiliki posisi strategis dalam membangun ekosistem literasi di sekolah. Menurutnya, literasi tidak dapat berkembang secara optimal apabila hanya berfokus pada siswa, sementara guru belum memiliki budaya membaca dan menulis yang kuat. “Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pembelajar. Pengalaman pembelajaran di kelas sesungguhnya menyimpan banyak persoalan, inovasi, dan praktik baik yang dapat dikembangkan menjadi karya ilmiah,” ungkapnya di hadapan peserta pelatihan.
Ia juga menjelaskan bahwa kemampuan menulis ilmiah penting dimiliki guru sebagai bagian dari pengembangan profesionalisme. Melalui karya tulis ilmiah, guru dapat mendokumentasikan proses pembelajaran, membagikan inovasi pendidikan, sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan mutu pendidikan.
Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Banyak guru aktif berdiskusi mengenai tantangan menulis ilmiah, mulai dari keterbatasan waktu hingga kesulitan menuangkan pengalaman mengajar ke dalam bentuk tulisan akademik. Meski demikian, para peserta menunjukkan semangat tinggi untuk mulai membangun kebiasaan menulis sebagai bagian dari budaya profesional guru. Kegiatan pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat budaya literasi akademik di lingkungan sekolah. Dengan meningkatnya kemampuan menulis ilmiah guru, sekolah diharapkan mampu menghasilkan lebih banyak publikasi pendidikan yang lahir dari praktik pembelajaran nyata di kelas. Selain meningkatkan kompetensi guru, kegiatan ini juga menjadi upaya membangun tradisi refleksi dan inovasi pendidikan yang berkelanjutan di lingkungan sekolah vokasi.