SURAKARTA — Yayasan Tribuno Svastha Harena sukses menggelar agenda daring bertajuk “Pelatihan Penulisan Kreatif Berbasis Kearifan Lokal” melalui Zoom Cloud Meeting pada Sabtu (22/8/2026). Kegiatan yang didukung penuh oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ini diikuti ratusan peserta dari kalangan akademisi, pendidik, mahasiswa, hingga pegiat literasi Nusantara.
Pelatihan ini diinisiasi guna memberikan pemahaman teoritis sekaligus keterampilan praktis dalam mengolah khazanah tutur lisan, mitos, dan nilai tradisi lokal menjadi karya sastra fiksi yang berbobot dan berdaya saing global.
Acara diawali dengan sambutan dari Ketua Yayasan Tribuno Svastha Harena, Dr. Tri Santoso, M.Pd. Beliau menekankan bahwa penulisan karya sastra berbasis kearifan lokal merupakan langkah nyata dalam menjaga ketahanan budaya sekaligus memperkuat karakter generasi muda di era serbuan informasi digital.
Memasuki sesi pertama, pakar sastra Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Dr. Ulinnuha Madyananda, S.S., S.Pd., M.Pd., mengupas materi “Penulisan Kreatif Karya Sastra Berbasis Kearifan Lokal”. Ia menegaskan bahwa kearifan lokal bukanlah sekadar tempelan nama tempat atau busana tokoh, melainkan fondasi epistemologis narasi.
“Kearifan lokal harus dijadikan sebagai cara pandang (worldview) dalam merespons persoalan universal, seperti krisis lingkungan hidup, kemanusiaan, hingga benturan modernitas,” ungkap Dr. Ulinnuha.
Dr. Ulinnuha membedah strategi pengolahan bahan lokal lewat pendekatan antropologi sastra, antropolinguistik, dan etnografi. Ia mencontohkan novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan yang memadukan mitos Jawa dengan realisme magis, cerpen Kayu Naga karya A.A. Navis yang menyuarakan etika ekologis Minangkabau, serta Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari yang memotret sistem kepercayaan pedesaan.
Pada sesi kedua, akademisi Universitas Bhamada Slawi, Dwi Atmoko, M.Pd., menyajikan materi aplikatif “Menulis Cerpen Berbasis Budaya Lokal: Dari Kearifan Lokal Menuju Fiksi, dengan Dukungan Kecerdasan Buatan”. Dwi Atmoko memaparkan alur transformasi fenomena budaya menjadi konflik cerita dan menekankan teknik Show, Don’t Tell agar narasi terasa hidup.
Ia juga mendemonstrasikan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) sebagai mitra kolaborasi (co-creation tool) dalam menyusun profil karakter dan memetakan alur cerita. Namun, ia menggarisbawahi pentingnya etika: suara kepengarangan tetap milik penulis manusia, serta detail adat yang sakral wajib diverifikasi keabsahannya.
Pelatihan ditutup dengan Rencana Tindak Lanjut (RTL), di mana cerpen terbaik hasil karya peserta akan dikurasi dan diterbitkan ke dalam buku antologi bersama sebagai dokumentasi budaya.
Dokumentasi :



